Minggu, 12 April 2020

#AprilProduktifDay12 - Utang Rasa


 UTANG RASA



Tepat sebelum saya menulis ini saya menemukan video IGTV dari bapak presiden Jancukers, Mbah Sudjiwo Tejo, yang berisi video-video #UtangRasa dari berbagai seniman, dan saya kaget ketika Iwa K, salah satu rapper idola saya juga ikut membuat video #UtangRasa. Lalu saya mencari video asli lagu Utang Rasa di Youtube, di channel youtube mbah Tejo sendiri. Seketika mata saya berkacakaca (ya memang saya memakai kacamata sih). Saya terharu teringat oleh teman-teman saya, keluarga saya, adik-adik saya, dan orang tua saya. Oleh karena itu, akan saya nyayikan lagu Utang Rasa tersebut (meskipun saya belum hafal nadanya).


Urip, urip
(life,life)
Urip mung sadelo …
(life is but a moment)
Hidup hanya sebentar. Bukan soal hitungan jam, hari, bulan, dan tahun.


Urip, urip
(life, life)
Urip mung sadelo mampir ngombe
(life is but a moment like stopping for a drink)
Hidup hanya sebentar seperti orang yang berhenti untuk minum. Dulu ketika awal-awal saya kuliah, ibu saya berkata ke bapak saya, “iya ya, sekarang anak kita sudah kuliah, sepertinya kemarin kita baru mendaftarkan dia di Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP)”. Seperti yang saya rasakan sekarang, rasanya baru beberapa waktu lalu saya mulai menjejakkan kaki di tanah Jogja, tenyata saya sudah hampir 7 tahun di sini.


Urip, urip
(life, life)
Urip mung sadelo mampir ngombe mbayar utang
(life is but a moment like stopping for a drink , paying a debt)
Hidup juga seperti membayar utang. Awalnya utang, mencari cara untuk membayar utang, utang lagi, begitu seterusnya.


Urip, urip
(life, lfe)
Urip mung sadelo mampir ngombe mbayar utang, utang roso nang kancane
(life is but a moment like stopping for a drink, paying a debt, a debt to a friend)
Banyak sekali utang rasaku kepada seluruh teman-temanku. Utang rasa kepada teman-teman masa kecilku, yang ketika saya menginjak usia Madrasah Tsanawiyah kalian sudah menapaki jalan kalian masing-masing. Kalianlah yang mengisi sebagian masa kecilku. Kalian yang tanpa kalian sadari telah menghiburku ketika saya habis dimarahi bapakku.

Utang rasaku kepada teman-temanku di Madrasah Tsanawiyah yang mengajariku berbagai hal. Mengajariku bermain internet, mengajariku bermain Facebook, dan mengajariku membolos untuk bermain Play Station sampai aku di sidang oleh wali kelasku.

Utang rasaku kepada teman-temanku di Madrasah Aliyah. Kalian semua sudah mengajariku banyak hal, membuat pandanganku semakin luas. Mengajariku menggunakan semua kesempatan yang ada walaupun dalam kesempitan. Mengajariku meluaskan kesempatan walaupun dalam kesempitan. Terutama teman-teman satu kamar di kamar Abdullah bin Umar di Komplek F Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Kepada seorang teman yang mengenalkanku kepada musik hiphop yang sampai sekarang aku masih jatuh cinta dengan musik ini.

Utang rasaku kepada teman-teman yang kukenal semasa kuliah. Kepada teman-temanku, lima orang yang masing-masing saya juluki “Si Dukun”, “Si Salik”, “Si Gelap”, “Si Ngefly Setrika”, “Si Sesepuh”, dan tambah satu orang “Si Takmir”, jadi enam orang. Kalianlah yang tanpa kalian sadari menuntunku menempuh jalan yang sedang kulalui. Begitu juga dengan “Jayus” yang tiba-tiba datang membuatku utang rasa kepadanya dan sekarang entah dimana dia berada.

Utang rasaku kepada seorang teman sekaligus seorang guruku yang sudah rela megajariku tentang segala hal dalam membuat komik. Seorang yang selalu saya kagumi dari sejak karyanya yang berjudul “Supi”, “Babad Jahiliyah”, “Bainahuma”, “Si Toyeb”, “Kadet Soewoko”, “22 Tokoh Kekasih Allah”, sampai “Sejuknya Hati Hamba Ilahi”, dan karya-karyanya yang lain.

Utang rasaku kepada seorang teman yang menjadi tempatku untuk membahas soal perempuan dan jatuh cinta.


Kang mongko utang roso ra mung nang kancane
(although a debt of feeling is owed not just to friends)
Kang mongk utang roso yo ro wong tuwane
(but also to our parent)
Yo sanak yo kekadang yo sadulur yo barayat yo tanggane
(to family near and far, to neighbours)
Sak kabeh kabeh kabehe …
(and to many more)
Utang rasaku yang bahkan tak bisa diukur oleh apapun di dunia ini kepada orang tuaku. Merekalah yang dengan sepenuh hati dan segenap jiwa mendukungku ketika kuambil jalan yang berbeda dengan yang mereka harapkan. Kepada bapakku yang dengan kebodohanku baru kutahu bahwa pelukanmu jauh lebih hangat dari semua selimut yang pernah kupakai. Yang dengan kebodohanku baru kutahu lima tahun terakhir ini ketika pertama kali kupeluk engkau di saat akan berangkat haji. Yang dengan kebodohanku pernah membuatmu menangis kecewa yang baru kutahu ketika ibu bercerita kepadaku. Lalu kepada ibuku yang aku paham bahwa engkau selalu berkaca-kaca menahan haru ketika aku melangkah selangkah lebih maju, ketika aku sampai pada sebuah pencapaian. Aku tahu bahwa itu adalah salah satu doamu dan doa bapak yang telah dikabulkan. Kepada adikku yang sudah melangkah jauh di depanku. Yang sudah jauh melangkah melampaui harapan bapak dan ibu.


Ra kebayar utang-utang rasaku
(I cannot repay my debt of feeling)
Sing tak bayar among pikiran lan tenagamu
(I can only pay for thoughts and energy)

Ra kebayar utang-utang rasaku
(I cannot repay my debt of feeling)
Sing tak bayar mung wektu pikiran lan ototmu
(I can only pay for time, thought, and exertion)
Semua utang rasaku kepada teman-temanku, kepada orang tuaku, kepada saudara-saudaraku, kepada keluaraku, kepada tetanggaku, kepada guru-guruku, dan kepada semua orang yang tanpa kusadari memberi kontribusi dalam hidupku, tak akan pernah bisa kubayar biar bagaimana pun. Hanya waktu, tenaga, dan pikiran yang bisa kubayarkan, namun utang rasa tak akan pernah bisa kubayar.


Urip, urip
(life, life)
Urip mung sadelo mampir ngombe mbayar utang Utang roso nang kancane
(life is but a moment like stopping for a drink, paying a debt, a debt to a friend)

Utang roso nang kabehe
(a debt of feeling to al)l
Mbayar utang utang roso
(paying a debt, a debt of feeling)
Mbayar sing ra bakal kebayar
(paying what cannot be paid)

Sing tak bayar mung wektumu
(I can only pay for your time)
Sing tak bayar mung pikiramu
(I can only pay for your thoughts)
Sing tak bayar mung kringetmu
(I can only pay for your sweat)
Utang Rasaku kepriye ?
(what about my debt of feeling?)



Yogyakarta, 12 April 2020

Iqbal Fahreza



“Rasa adalah bahasa tuhan 
selebihnya adalah terjemahan yang buruk.”
(salah satu komentar dari seseorang di video lagu Utang Rasa di youtube Sudjiwo Tejo)

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 11 April 2020

#AprilProduktifDay11 - Petis Runting dan Mie Ayam Pangsit Pak Supar


MARI MEMAHAMI TUBUH KITA



Petis Runting Khas Pati
Awalnya dulu ketika 6 tahun bersekolah di kabupaten Pati, saya tidak pernah tahu soal makanan ini. Baru ketika masuk perkuliahan, ketika main ketempat teman saya, saya diajak untuk makan petis ke sebuah warung. Bayangan saya petis seperti petis dari Madura atau dari Sarang (karena keduanya saya sudah pernah saya makan). Ternyata tidak. Seperti gulai, tapi beda. Memiliki tekstur yang khas dan cukup kuat. Jika disearch di google namanya Petis Runting. Tapi dikalangan teman-teman saya hanya menyebut “petis” saja. Di google kebanyakan menyebutkan bahwa Peyis Runting memakai daging kambing, tapi tidak sedikit juga warung-warung yang menggunakan ceker ayam. Harganya juga murah, kalau tidak salah 5000an rupiah.

(Sumber gambar: link)


Mie Ayam Pangsit Pak Supar
Sebenarnya seperti mie ayam pangsit umumnya. Tapi entah kenapa, dari semua mie ayam yang pernah saya makan di Jogja, Cuma mie ayam pangsit Pak Supar ini yang paling enak. Saya dari dulu mencari tahu apa yang membuat saya merasa bahwa mie ayamnya pak Supar ini enak dan beda. Mungkin kalian harus mencobanya supaya tahu apa yang saya maksud.

Letaknya di Jl. Pedak baru 16/07, Banguntapan, Bantul. Dulu pak Supar masih pakai gerobak keliling dan mangkal di depan kontrakanku yang dulu di Gowok. Tapi sekitar 2 tahun kemudian pak Supar membuka warung. Yang unik lagi dari pak Supar adalah ketika mengantar mie ayam (beliau juga melayani delivery untuk warga di sekitar warungnya). Beliau menggunakan sepeda dengan tangan kiri memegang stang sepeda dan tangan kanan membawa nampan berisi 4-6 mangkok mie ayam. Belum lagi ketika hujan, tangan kiri memegang stang sepeda, tangan kanan membawa nampan berisi 4-6 mangkok mie ayam, ditambah payung yang dijepit leher dan pundak kanannya. Sungguh skill yang sangat hebat. Oh ya, harga mie ayam pangsit Pak Supar berkisar 7.500 rupiah.

(Sumber gambar: link)

(Sumber gambar: link)

Ilustrasi skill pak Supar (Sumber gambar: dokumen pribadi)


Terlepas dari soal apa yang kita makan, sebenarnya kita harus memahami soal tubuh kita. Misalnya kita harus mengetahui porsi seperti apa yang harus kita konsumsi. Karena ada yang makan satu piring sudah kenyag, ada yang setengah piring sudah kenyang, ada yang dua piring baru kenyang. Kita harus tahu makanan apa yang bisa dikonsumsi oleh tubuh kita. Misalnya ada makanan yang dimakan orang tidak berdampak apa-apa, tapi ketika kita makan malah menimbulkan penyakit. Itulah kenapa kita harus memahami tubuh kita.

Yogyakarta, 11 April 2020
Iqbal Fahreza

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 10 April 2020

#AprilProduktifDay10 - Dari Sleman ke Jepara


 DARI OMAH PETROEK KE GUNUNG RAGASTINA

(Sumber gambar: link)

Dulu, saya pernah berkunjung ke sebuah warung kopi yang dikelola oleh teman saya yang berada di Kaliurang. Teman saya tersebut juga bergelut dibidang sastra, penulisan, dan budaya. Kami ngobrol ngalor ngidul soal sastra, budaya, dan penulisan, sampai saya mengatakan bahwa saya mengagumi puisi-puisi dan karya-karya romo Sindhunata. Kemudian teman saya bertanya kepada saya, “Sudah pernah ke Omah Petroek?”. Saya bingung karena saya tidak tahu apa itu Omah Petroek. Teman saya menjelaskan bahwa yang membangun Omah Petroek adalah romo Sindhunata dan terletak di Karang Klethak, seketika saya teringat lagu dari Jogja Hiphop Foundation yang juga berasal dari puisi karya romo Sindhunata berjudul Rep Kedhep, di salah satu liriknya berbunyi “…dari Karang Klethak ia lalu mampir…”. Di sana terdapat banyak karya-karya berbagai bentuk. Bahkan kata teman saya, patung kaki yang dulu ada di titik nol kilometer sekarang berada di sana. Tentu saja saya sangat antusias ingin ke sana setelah mendengar hal tersebut.

Berdasarkan gudeg.net, menurut informasi Omah Petroek dibangun oleh RM. Sindhunata. Di sana banyak patung-patung yang dibuat oleh para seniman dan dipamerkan di sana. Banyak karya seni yang berupa patung banyak tersebar di segala penjuru di Omah Petroek1. Inilah yang membuat saya ingin sekali ke sana. Selain ada banyak karya seni, saya ingin merasakan bagaimana jika saya berada di suatu tempat dan dikelilingi oleh banyak sekali karya-karya dari para seniman.

(Sumber gambar: link)

(Sumber gambar: link)


Selain Omah Petroek, saya sebenarnya ingin mengunjungi sebuah tempat yang berada di desa asal saya di Jepara. Tempat itu bernama Gunung Ragastina. Sebuah gunung putih yang diambil batunya oleh sebuah perusahaan. Orang-orang dari luar desa saya menyebutnya gunung Watu Putih (Batu Putih), begitu juga jika dicari lewat google map, karena di google map dikasih nama Gunung Watu Putih, entah siapa yang menamai dengan nama tersebut di google map padahal namanya gunung Ragastina. Yang membuat saya tertarik adalah tempat ini yang berada di desa saya dan sebenarnya dari dalam lubuk hati saya, saya ingin membuat komik dengan setting di desa saya, termasuk gunung Ragastina tersebut.

Sebenarnya dulu gunung ini biasa saja. Namun setelah berjalan sekitar 20 tahun lebih, setelah bagian utara gunung sudah habis dikeruk, malah sekarang menjadi semacam objek wisata, padahal pada kenyataannya itu bukanlah tempat wisata. Tapi memang saya akui sekarang ini tempat tersebut, bagian utara gunung yang sudah habis dikeruk, menjadi tempat yang instagram-able, bagus untuk diupload di instagram.

Tepat di sebalah utara gunung Ragastina, di sebrang jalan, juga ada gunung bernama gunung Bakau. Jadi biasa jika saya menjelaskan bagaimana desa saya terletak, gampang saja, desa saya terletak di antara dua gunung. Hahaha.

Memang, sewaktu saya kecil, banyak tragedy yang terjadi di gunung Ragastina tersebut. Dua orang teman saya meninggal di gunung tersebut. Dan masih banyak cerita seram yang terjadi di gunung tersebut. Namun itu dulu, sekarang? Saya tidak tahu. Hahaha. saya sudah lama berada di kota orang.
(Sumber gambar: link)

(Sumber gambar: link)

(Sumber gambar: link)

(Sumber gambar: link)

(Sumber gambar: link)



Yogyakarta, 10 April 2020
Iqbal Fahreza

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 09 April 2020

#AprilProduktifDay9 - Watchmen


RORSCHACH'S JOURNAL 



(Sumber gambar: link)



“Rorschach Journal, 12 Oktober 1985. Bangkai anjing di gang pagi ini. Ban melindas perut yang terburai. Kota ini takut padaku. Aku telah melihat wajah aslinya. Kota ini selokan panjang dan selokan itu penuh darah. Dan akhirnya saat saluran berkeropeng semua hama akan tenggelam. Kumpulan kehinaan atas seks dan pembunuhan mereka akan berbuih di pinggang mereka dan semua pelacur dan politisi akan menengadah dan berteriak, “Tolong kami”. Dan akan kubisikkan, “Tidak!”. Sekarang seluruh dunia berdiri di atas jurang, menatap ke neraka Jahannam.  Para liberalis dan kaum intelektual dan yang pandai bicara dan secara tiba-tiba, taka da yang dapat memikirkan apapun untuk bicara. Di bawahku, kota yang malang ini, berteriak seperti pejagalan penuh anak-anak dungu, dan malam itu berbau zina dan nurani busuk. “ -Rorschach’s Journal-


Film ini menceritakan pada tahun 1985 di Amerika, salah satu vigilante bertopeng bernama Rorschach menyelidiki kematian salah satu rekan vigilantenya, The Comedian, yang akhirnya penyelidikannya menemui sebuah konspirasi yang menentukan masa depan dunia. Secara singkat sinopsis dari film ini seperti itu.

Di film ini, ada sekelompok pahlawan bertopeng bernama Watchmen. Sebelum ada Watchmen, pada era 40-an, ada sekelompok  pahlawan bertopeng juga bernama Minutemen yang merupakan pionir adanya pahlawan bertopeng. Kemudian pada tahun sekitar 80-an terbentuklah Watchmen yang merupakan generasi selanjutnya dari Minutemen. Terdapat 6 pahlawan di Watchmen, yaitu The Comedian (dulu dia juga tergabung dalam Minutemen), Nite Owle II (penerus Nite Owl I dari Minutemen), Silk Spectre II (anak dan penerus Silk Spectre I dari Minutemen), Rorschach, Dr. Manhattan, dan Ozymandias.

Film ini diawali dengan sudut pandang dari Rorschach, dimana dia menyelidiki kematian The Comedian. Dia berasumsi bahwa ini merupakan kasus perburuan pahlawan bertopeng. Dia memberitahu teman-temannya, yaitu Nite Owl II, Dr. Manhattan, dan Silk Spectre II, sedangkan Nite Owl II memberi tahu kepada Ozymandias. Namun tak ada yang peduli dengan kasus ini. Mereka hanya melayat saja ke pemakaman The Comedian. Lalu Rorschach memutuskan untuk tetap menyelidiki kasus pembunuhan The Comedian sendirian. Hingga dia dijebak dan ditangkap polisi. Lalu Dr. Manhattan, satu-satunya yang mempunyai kekuatan super seperti dewa, juga tidak membantu Rorschach.

Di luar penyelidikan Rorschach, perseteruann antara Amerika dan Rusia semakin menegangkan. Ada isu bahwa Rusia akan melakukan uji coba nuklir dengan mengirim nuklir ke Amerika. Sebenarnya nuklir tersebut bias saja dihalau oleh Dr. Manhattan yang memiliki kekuatan seperti dewa. Namun Dr. Manhattan entah mengapa seperti sedang mengalami gangguan terhadap perasaannya.

Hingga Rorschach dijebak dan ditangkap oleh polisi. Dan Dr. Manhattan pergi ke Mars untuk mengasingkan diri. Keadaan antara Amerika dan Rusia semakin menuju peperangan. Dan kiamat nuklir seperti diujung tanduk menuju kenyataan. Lalu ketika Rorschach berhasil kabur dari penjara dan dijemput oleh Nite Owl II dan Silk Spectre II, mereka menemukan fakta bahwa semuanya merupakan konspirasi yang dilakukan oleh Ozymandias. Mulai dari isu perang nuklir, membunuh The Comedian, penangkapan Rorschach, dan perginya Dr. Manhattan ke Mars. Semua demi tujuan Ozymandias, yaitu perdamaian dunia. Benar, perdamaian dunia. Aneh kan?

Film ini merupakan adaptasi komik buatan DC Comics dengan judul yang sama. Cerita yang kelam seperti ciri khas dari DC sangat menarik bagi saya. Tidak seperti film-film superhero biasanya, di sini tidak ada penjahat biasa ataupun penjahat super. Tapi musuh mereka adalah diri mereka sendiri. Ozymandias yang merupakan manusia paling pintar sedunia, ingin perdamaian dunia tapi dengan memberi ketakutan pada dunia seperti membuat isu nuklir dan membuat Dr. Manhattan pergi dari bumi padahal hanya Dr. Manhattan yang dengan kekuatan dewanya bias menghalau nuklir. Rorschach yang seperti detektif, ingin menyelidiki pembunuhan The Comedian namun dengan cara illegal (pada waktu tersebut vigilante mulai dicekal oleh pemerintah), Nite Owl II dengan perasaannya cintanya yang seperti bertepuk sebelah tangan, Silk Spectre II yang ingin merasakan perhatian dari pasangannya, dan Dr. Manhattan yang seperti mulai kehilangan perasaan dan sisi kemanusiaannya.

Banyak hal disinggung dalam film ini, mulai dari sosial, politik, pemerintahan, polisi/keamanan, American’s dream, perjuangan, dan lain-lain.

Selain itu, hal yang sangat unik dalam film ini adalah adanya sisipan cerita lain yang tidak ada hubungan dengan cerita utama film, yaitu Tales of the Black Freighter, yang diselip-selipkan dalam film.

Durasi film ini sangat lama, 3 jam 35 menit. Mungkin inilah kekurangan dari film ini, menurut saya. Tapi tidak ketika sudah menikmati dari awal, nanti bakal tidak terasa kalua film tersebut tiga jam setengah.

Film ini memiliki adegan yang vulgar dan berdarah-darah. Film ini juga ada squelnya dalam bentuk series di HBO. Rating Imdb untuk film ini 7.6/10, tapi rating dari saya 10/10.

Saya bingung harus me-review film ini seperti apalagi, saya sangat suka sekali dengan film ini. film favorit saya sejauh ini.


“Aku sudah 67 tahun. Setiap hari, masa depan terlihat semakin gelap. Tapi masa lalu, bahkan bagian terburuknya, semakin terang.” -Silk Spectre I-



Yogyakarta, 09 April 2020
Iqbal Fahreza

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 08 April 2020

#AprilProduktifDay8 - Lupa Adalah Manusiawi




Berbicara soal lupa, merupakan sebuah hal yang sering terjadi dalam hidup. Saya sangat sering lupa terhadap hal-hal sehari-hari. Sering saya ketika akan berangkat kerja saya mengunci pintu, namun beberapa menit kemudian saya lupa apakah tadi sudah saya kunci atau belum, kemudian saya mengecek pintu lagi dan ternyata sudah saya kunci.

Menurut saya tidak ada yang salah dengan lupa, karena bagi saya lupa adalah sesuatu yang tidak disengaja. Tapi bukan berarti lupa bisa menjadi alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Itu namanya menyalahgunakan lupa.

Ada pepatah Al Insanu Mahalul Khoto Wa Nisyan, “manusia tempatnya salah dan lupa”. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan lupa. Namun, selain lupa, pepatah itu juga soal salah. Manusia tempat salah. Namun kadang hal ini digunakan untuk membela diri ketika melakukan kesalahan, entah disengaja atau tidak. Yang paling buruk menuruku adalah ketika dengan sengaja melakukan hal yang salah dan menggunakan pepatah tersebut untuk membela diri. Karena menurutku jika salah ya diakui saja kalau salah.

Saya teringat tulisan Marzuki Mohammad a.k.a Kill The DJ di bukunya Java Beat in The Big Apple yang mengatakan ketika beliau, Marzuki Mohammad, tour hip hop di Amerika bersama teman-teman JHF (Jogja Hiphop Foundation), beliau diwawancara dan ditanya, “apa yang identik tentang negara anda?”, tanya seorang wartawan dalam bahasa Inggis (Amerika). Marzuki menjawab, “korupsi”. Si wartawan kaget, “kenapa korupsi identik dengan Negara anda?”. Marzuki menjawab, “bagaimana bisa maju jika tidak mau mengakui hal yang salah”. (Note: ini seingat saya saja, karena ketika mau menulis ini saya cari buku Java Beat in The Big Apple untuk mengutip hal ini tapi tidak ketemu).



Yogyakarta, 08 April 2020

Iqbal Fahreza

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 07 April 2020

#AprilProduktifDay7 - Jatuh Cinta dan Patah Hati


















Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 06 April 2020

#AprilProduktifDay6 - Beda? Ga tau!


DARI ANTI ACNE DAN BONDAN PRAKOSO & FADE2BLACK LALU JHF HINGGA NDX AKA DAN TUAN TIGABELAS 




Aku tidak tahu apakah ini akan menjadi yang menjadikan diriku berbeda dengan orang lain. Aku akan menceritakan tentang musik yang aku suka, Hip Hop.

(Sumber gambar: link)

Semua berawal ketika aku masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah, setara dengan Sekolah Dasar. Aku lupa tepatnya kelas berapa, saat itu temanku memutar CD lagu. Memang sebuah CD bajakan. Jika kalian tahu, CD bajakan biasanya salah satu menjadi ajang untuk menyelipkan satu lagu indie saat itu. Bahkan saya tahu DJ Frog dari CD bajakan. Kembali ke CD bajakan yang diputar temanku. Dia memutar CD yang isinya satu album dari sebuah band, dimana di awali dengan sebuah band indie yang berbeda, namanya Anti Acne dengan lagu yang berjudul Paijo. Saat pertama kali dengar lagu ini saya merasa “asik nih lagu”, lirik berbahasa jawa, berima, menggelitik, lucu, dan mengandung makna-makna yang cukup mendalam. Tapi saat itu saya tidak tahu bahwa lagu Paijo adalah lagu Hip Hop.


(Sumber gambar: link)

Sekitar satu sampai dua tahun kemudian, ketika aku sudah masuk Madrasah Tsanawiyah, temanku yang lain ada yang memutar lagu dari Bondan Prakoso & Fade 2 Black, lagu Bunga, Xpresikanlah, dan Kencong Prothol. Pengalaman baru bagiku terhadap musik hip hop. Hingga kemudian sekitar tahun 2010 ketika aku masuk Madrasah Aliyah, bersamaan dengan boomingnya lagu Ya Sudahlah dan Kita Selamanya dari Bondan Prakoso & Fade 2 Black. Hampir semua temanku menjadi Rezpector, fans Bondan Prakoso & Fade 2 Black. Begitu juga aku yang ikut sok-sokan jadi Rezpector. Sejak itulah aku mulai mengulik lagu-lagu bergenre Hip Hop.


(Sumber gambar: link)

Hingga kemudian di tahun 2010 juga, seorang temanku memperkenalkanku degan lagu-lagunya Jogja Hiphop Foundation (JHF). Seketika saya langsung jatuh cinta dengan JHF dan lagu-lagunya. Bertepatan juga ketika itu aku membaca berita tentang konser JHF di Jakarta bertajuk NewYorkarto dimana merupakan konser pamitan untuk melakukan tour hip hop di Amerika. Dan yang lebih membuatku terkesan dengan JHF adalah mereka tour konser hip hop di Amerika membawakan lagu-lagu berbahasa jawa, dan semua audiens menikmatinya. Ini seperti sebuah misi budaya secara tidak langsung.
Dari JHF juga aku mengenal puisi-puisi dari romo Sindhunata. Memang sebagian lagu-lagu JHF berasal dari puisi-puisi Sindhunata yang bisa dibilang semacam msikalisasi puisi dalam bentuk lagu hip hop. Bahkan JHF membuat sebuah album bertajuk Semar Mesem Romo Mendhem dimana berisi lagu-lagu yang berasal dari puisi-puisi Sindhunata sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap romo Sindhunata.
Mungkin di sinilah aku merasa beda dengan teman-temanku. Karena sepertinya hanya aku yang menyukai JHF dan hip hop jika disbanding dengan teman-temanku. Begitu juga soal Sindhunata. Di kalangan teman-temanku yang bergelut di sastra dan budaya, sepertinya hanya aku yang menyukai karya-karya Sindhunata. Sedangkan teman-temanku biasanya lebih menyukai Umbu dan orang-orag dari PSK (Persada Studi Klub), seperti Cak Nun, pak Iman Budhi Santosa, bahkan pak Musofa W. Hasyim. Aku juga menyukai karya-karya mereka, tapi aku juga menyukai karya-karya Sindhunata, dan dikalangan temanku hanya aku yang menyukai karya beliau.


(Sumber gambar: link)

Yang sepertinya membuatku beda dengan teman-temanku adalah ketika aku tidak sengaja mengenal lagu-lagu NDX AKA Familia. Aku menenal lagu-lagu NDX AKA Familia sebelum Via Vallen terkenal dengan lagu Sayang. Lagu Sayang awalnya adalah lagu dari NDX AKA. Yang kusuka dari NDX AKA sebenarnya bukan soal lirik dan musiknya. Tapi entah mengapa aku seperti menemukan ketulusan dalam berkarya yang kental. Itu yang membuatku suka dengan lagu-lagu NDX AKA.
Lalu ketika Via Vallen booming dengan lagu Sayang dan lagu-lagu NDX AKA juga cukup banyak yang memutar di sekitarku dan warung-warung kopi tempatku biasa nongkrong, aku mulai mengurangi untuk mengikuti NDX AKA. Bukan berari aku tidak suka lagi. Ini mungkin yang juga membuatku beda dengan teman-temanku. Aku biasanya tidak memutar atau dengan sengaja mendengarkan lagu-lagu yang diputar banyak orang di sekitarku atau sedang hype. Karena aku berpikir bahwa buat apa memutar lagu yang sering diputar orang di sekitarku, toh tanpa kuputar pun aku sudah mendengarkannya. Begitu juga ketika hype Nisa Sabyan. Aku tidak pernah memutar lagu-lagunya karena tanpa aku putar aku sudah mendengar lagu-lagunya di sekitarku. Memang dulu aku suka Bondan Prakoso & Fade 2 Black juga ketika sedang booming. Tapi sekarang, entah mengapa aku menjadi seperti ini.


(Sumber gambar: link)

Lalu setelah JHF lama tidak membuat lagu dan aku sudah lama tidak mengikuti NDX AKA, aku mulai mengulik lagi lagu-lagu hip hop. Lalu aku menemukan lagu-lagu dari Tuan Tigabelas. Benar. Sekarang aku sedang menyukai lagu-lagu dari Tuan Tigabelas.
Dan bukan berarti lagu-lagu rapper lain tidak aku suka, banyak yang aku suka. Tapi yang sudah kujelaskan di atas adalah yang paling punya kesan bagiku. Aku juga menyukai lagu-lagu Saykoji, Iwa K, orang-orang dari HellHouse, Laze, Pandji Pragiwaksono, Boyz Got No Brain, 8Ball dan lagu-lagu dissnya, masih banyak lagi.
Hah? Young Lex? Gak masuk seleraku!

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Recent Posts

Categories

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Gerakan Komik Bosok | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com