Minggu, 05 April 2020

#AprilProduktifDay5 - Suparlan: Catatan Sejenak #3


INSTAGRAM




(Sumber gambar: dokumen pribadi)


Sepertinya catatan kali ini juga bukan tentang kamu, Karlina. Tapi semoga berhubungan tentang kamu.

Saat itu, setelah pertama kali aku melihatmu, John Keple sudah paham akan apa yang aku rasakan. Dia memperlihatkanku akun instagram milikmu kepadaku. Jangan tanya mengapa John Keple tahu soal akun Instagram milikmu. Akunmu kamu kunci. Beberapa hari kemudian John Keple bertanya, “sudah difollback?”. Aku hanya tertawa. Karena aku tak masalah jika kamu tidak mengikuti balik terhadap akun Instagram miliku. Bukan karena aku merasa rendah bahwa pasti kamu tidak akan untuk mengikuti akun miliku. Bukan soal itu. Karena aku merasa aneh melihat orang meminta follback kepada seseorang lewat komen-komen atau DM-DM. Apalagi jika ada yang menulis “follbak DM!” di bio Instagram miliknya. Seakan follback bukan karena ingin tapi karena diminta. Berarti jika tidak diminta tidak akan follbak, seperti terpaksa saja.

Begini, Karlina, aku akan jujur. Sejak peristiwa aku melihatmu pertama kali, aku sering melirik ke arahmu. Aku berusaha tidak melewatkan untuk melirikmu setiap kali ada kamu jika ada dalam jarak pandangku. Walaupun kamu hanya lewat. Maaf, Karlina, aku menikmati hal itu. Tapi, aku kaget, karena suatu ketika aku mengulang mata kuliah di kelasmu, aku melirik ke arahmu seperti biasa, tiba-tiba kamu melirik ke arahku. Dalam sepersekian detik mata kita bertemu. Cepat-cepat kupalingkan pandanganku. Malu. Sejak itu , tiap aku melirik ke arahmu, kamu melirik balik ke arahku, kadang-kadang. Aku tidak tahu maksud lirikanmu. Tapi aku menikmati hal itu. Walaupun aku malu.

Sebenarnya aku hanya ingin menulis tentang bagaimana aku mengikuti akun instagram milikmu. Karena di Instagramlah awal aku pertama menyapamu. Dan jika kuingat, saat pertama kali kamu membalas DM dariku dulu aku merasa ingin melompat-lompat karena senang yang teramat.

Aku bukan orang yang suka membagikan apapun yang kurasakan ke media sosial. Dulu memang aku seperti itu ketika masih usia labil. Sekarang, jika aku ingin sekali membagikan tentang jatuh cinta kepadamu, aku lebih memilih story di Whatsapp dimana tidak semua orang bisa melihat. Karena aku tahu bahwa orang yang sudah biasa melihat storyku di Whatsapp adalah orang-orang yang tidak peduli dengan apa yang aku bagikan di story Whatsapp miliku.

Seperti yang kubilang di awal, Karlina, bahwa catatan kali ini juga bukan soal dirimu. Maaf.


Yogyakarta, 01 April 2020
Catatan Sejenak #3

Suparlan

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 04 April 2020

#AprilProduktifDay4 - Teman

         

        Suatu ketika salah seorang teman saya yang sudah lama tidak saling kontak dengan saya tiba tiba menghubungi saya.


Teman saya: "Bal, gambarin aku, dong!"

Saya : "Oke, 50k per wajah."


         Setelah itu teman saya tidak mengubungi saya lagi sampai sekarang.






Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Jumat, 03 April 2020

#AprilProduktifDay3 - Telaah Kembali

Mengulas Jalan Yang Telah Dilalui dan Mimpi Yang Akan Ditapaki

oleh: Iqbal Fahreza



Mungkin masih banyak orang yang beranggapan bahwa komik adalah bacaan untuk anak-anak, termasuk orang tua saya. Memang tidak salah, karena dari awal kartun-kartun yang ditayangkan di TV-TV Indonesia kebanyakan ditargetkan untuk anak-anak. Promosi kartun di TV pun memberikan keterangan bahwa kartun adalah tontonan untuk anak. Begitu pula dengan took-toko buku yang masih ada yang meletakan komik di rak buku anak, padahal belum tentu komik pasti memiliki konten untuk anak-anak. Maka dari itu, jika masih banyak orang yang berpikiran bahwa komik adalah hal yang tidak salah.

Namun, bukan berarti semua komik adalah bacaan untuk anak. Jika menilik manga-manga dari Jepang, banyak sekali yang memuat konten dewasa, atau minimal memberi servis kepada pembaca berupa pakaian minim pada karakter dalam komiknya. Terlepas dari itu semua, pergerakan komik Indonesia juga sedang menggeliat menuju puncak kejayaan. Dengan keunikan-keunikan para komikus Indonesia yang kreatif dengan menyadur konteks-konteks eksplisit yang mungkin belum tentu bisa dilakukan oleh komikus lain. Maka dari itu, saya ingin memperkenalkan dua komik ini walaupun sebenarnya dua komik ini sudah terkenal.


Sejuknya Hati Hamba Ilahi: Mengenal AL Hikam Ibnu Atha’illah karya Husni Assaerozi dan Sen Seno

(Sumber gambar: link)

Saya yakin sangat banyak yang tahu tentang kitab Al Hikam yang dikarang oleh Imam Ibnu Atha’illah Al Iskandari karena memang kitab ini sangatlah terkenal. Tidak hanya dikalangan pesantren, namun saya yakin dikalangan orang-orang yang memperlajari filsafat dan tasawuf juga mengenal kitab Al Hikam. Namun, pernahkah membayangkan jika kitab Al Hikam dijadikan komik?

Memang bukan keseluruhan isi Al Hikam dijadikan komik, namun beberapa hikmah-hikmah yang ada dalam Al Hikam diambil untuk dituangkan dalam sebuah komik. Tokoh sentral dalam komik ini adalah Roma. Roma adalah sesosok lelaki yang nyeleneh yang berkeliaran di sebuah daerah, namun dalam berkeliarannya tersebut dia sebenarnya juga menyampaikan intisari-intisari dari kita Al Hikam dengan gaya yang nyeleneh dan unik.

“Tekad adalah kekuatan yang mampu mempengaruhi sesuatu. Namun, tekad ini tak akan berpengaruh apa-apa, kecuali dengan takdir dan ketentuan Allah”. Itu adalah salah satu hikmah dari kita Al Hikam yang diambil dalam komik ini. Dari hikmah tersebut diceritakan ada seorang komikus yang setiap hari hanya membuat komik saja sampai dia tidak melakukan ibadah-ibadah wajib bagi seorang muslim. Lalu datanglah Roma berbincang kepada si komikus. “Sungguh indah apabila yang kau cita-citakan ini kau sandarkan pada Tuhan, Sang Maha Kehendak Segala Hal”, kata Roma kepada si komikus. Ketika saya membaca dialog Roma tersebut, seketika saya teringat kepada seorang komikus yang sangat terkenal di Indonesia, Alex Irzaqi. Beliau, Alex Irzaqi, pernah menyampaikan melalui akun media sosialnya untuk berkarya dengan menyandarkan setiap karya kepada Allah. Inilah yang mungkin masih belum saya lakukan bahkan sampai saat ini. Alex Irzaqi (seingat saya) juga melanjutkan dalam apa yang disampaikan tersebut bahwa sandarkan karyamu kepada Allah supaya Allah selalu menjaga karya-karyamu.

Kembali soal komik ini, saya sangat kegirangan ketika mas Husni Assaerozi dan mas Sen Seno bercerita tentang proyek pembuatan komik ini (iya, saya memang kenal dengan mas Husni dan mas Seno). Kemudian ketika saya membaca komik ini dalam pertama kalinya, saya sangat terharu. Bagaimana tidak, untuk kesekian kalinya saya kembali terkagum dengan kemampuan mas Husni dalam membuat hikmah-hikmah yang ada dalam kitab Al Hikam menjadi sebuah komik yang disampaikan secara mudah dan gampang dipahami. Ini merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Kemudian hal itu dikolaborasikan dengan goresan indah dari mas Seno. Ini merupakan sebuah kolaborasi yang sangat saya kagumi sampai sekarang.

Ini bukan endorse tapi jika ingin memiliki komik ini bisa dicari di toko-toko buku dan toko-toko online.


Ngobrol Sama Deadline: Untold karya Dhean De Nauli


(Sumber gambar: link)

Pernah membaca komik dengan cerita yang berat? Cerita tetang kegelapan dalam diri? Komik karya mbak Dhean De Nauli ini menyuguhkan konten yang cukup berat, dan (menurut saya) sangat tidak cocok untuk dibaca anak-anak.

Komik ini tentang sesosok “Cameo” yang dibunuh oleh pemiliknya sendiri. Setiap manusia memiliki cameo. Cameo adalah perwujudan dari sisi gelap manusia. Mereka hidup dengan memakan energi negatif yang dikeluarkan orang-orang. Tokoh utama dalam komik ini adalah seorang perempuan  memiliki sesosok cameo yang lahir dari kecemburuhan, kemarahan, dan keangkuhannya. Cameo tersebut diberi nama “Deadline”. Deadline memiliki Sabit Penebas Mimpi, dan si perempuan sudah pernah menggunakan sabit itu sekali untuk membunuh mimpinya. Sepanjang komik ini bercerita bagaimana kehidupan si perempuan setelah menebas mimpinya yang membuat hidupnya semakin terpuruk. Puncaknya ketika ayah si perempuan meninggal dunia, hingga akhirnya si perempuan memutuskan untuk membunuh Deadline, cameo miliknya. Seteah dia membunuh cameo miliknya, datanglah sesosok yang menjemputnya menuju kematian. Di situ pulalah dijelaskan bahwa cameo adalah nafsu yang ada dalam diri manusia. Cameo akan terus melakukan apapun agar manusia terus memproduksi energi negatif, dan finalnya merekan akan meminta manusia untuk bunuh diri. Di situlah si perempuan mengetahui bahwa membunuh cameo sama dengan bunuh diri.

“Pembunuh impian adalah pembunuh paling buruk. Dia mengubah seorang manusia menjadi seonggok daging hidup yang tidak memiliki gagasan. Dan seburuk-buruknya pembunuh impian adalah mereka yang membunuh mimpinya sendiri”. Dialog ini seperti menampar diri saya. Jangan-jangan saya sudah membunuh mimpi saya sendiri tanpa saya sadari. Atau malah saya selama ini hanya menuruti permintaan dari cameo yang ada dalam diri saya.

Dari apa yang saya dapat setelah membaca komik ini adalah mimpi yang membuat manusia terus berjuang terutama untuk melakukan kebaikan, dan jangan sampai dikendalikan oleh nafsu. Uniknya adalah hal tersebut diceritakan dengan cara yang berbeda dan unik. Keunikan ini juga yang membuat karya-karya mbak Dhean sangat menarik bagi saya. Bahkan juga menjadi salah satu inspirasi saya dalam komik-komik yang sudah saya buat (walaupun memang kualitasnya masih jauh dari karya-karya mbak Dhean).

Sekali lagi ini bukan endorse, tapi kalau ingin memiliki komik ini silakan menghubungi akun social media mbak Dhean De Nauli karena komik ini dicetak secara indie, bukan lewat penerbit. Siapa tahu masih ada stok.


Kembali lagi ke awal

Komik itu seperti film, ada ratingnya. Entah rating itu secara langsung diperlihatkan atau tidak. Oleh karena itu tidak semua komik adalah bacaan anak. Sebenarnya sudah tugas orang tua untuk memilah mana yang layak dikonsumsi anaknya (seharusnya saya tidak mengatakan ini karena saya belum punya anak, istri saja belum punya).

Terlepas dari persoalan “tidak semua komik adalah bacaan anak”, jika menilik dari dua komik di atas (entah ini nyambung atau tidak dengan penjelasan dua komik di atas) bahwa banyak hal dapat diambil hikmahnya. Tidak hanya dari hal yang baik saja tapi dari hal yang buruk juga, karena hikmah tidak hanya dari hal baik saja. Jadi, karena saya sdah tidak tahu lagi mau menulis apa, maka saya cukupkan sekian. Terima kasih.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 02 April 2020

#AprilProduktifDay2 - Suparlan: Catatan Sejenak #2


JOHN KEPLE




(Sumber gambar: dokumen pribadi)

Memang benar jika aku mengenalmu karena John Keple menyuruhku melihatmu. Jika saja John Keple tidak menyuruhku, aku lebih memilih untuk tak acuh kalau yang saat itu duduk di sebelah kananku adalah kamu. Walaupun, jujur saja, kamu memang sangat menarik bagiku. Sebentar, ini harus diperjelas. Begini. Jika aku tidak penasaran dengan perkataan John Keple saat itu untuk melihatmu, aku mungkin tidak akan seperti ini. Meskipun jika tanpa ada perkataan dari John Keple, tanpa ada keinginan untuk mengenalmu, kamu tetap saja sosok wanita yang menarik bagiku, hanya saja aku lebih bisa meredam perasaan ini.

Ini tentang John Keple. Dia lebih dulu mengenalmu daripada aku. Dia bahkan mengenal hampir semua wanita di kelasmu, ah bukan, lebih tepat kalau dibilang dia mengenal hampir semua wanita satu angkatanmu, bahkan angkatan di atasmu. Dia adalah seorang laki-laki yang mudah untuk berkenalan dengan wanita, tidak sepertiku yang pengecut. Dia berkenalan dengan banyak wanita dan suka menggoda mereka, dan kamu termasuk salah satunya. Tapi, aku yakin bahwa godaan dia tidak mempan untukmu, memang aku tahu kalau kamu adalah wanita yang agak susah untuk didekati, bagiku (atau mungkin saja aku yang tidak berani).

Bahkan suatu ketika John Keple bertemu dengan segerombol wanita dari angkatanmu, mereka bilang kepada John Keple, “Mas John Keple, kok tidak menghubungi kita lagi? Sudah punya wanita, kah?”. Aku yang saat itu sedang bersama dengan John Keple seketika tertawa. Lucu. Memang akibat dari perlakuan John Keple yang suka menggoda wanita akan membuat beberapa wanita yang menaruh harapan terhadap John Keple pada akhirnya akan kecewa karena John Keple hanya sebatas menggoda saja, tidak ada maksud untuk lebih jauh. Ini bukan salah John Keple. Juga bukan salah wanita yang menaruh harapan kepada John Keple. Hanya saja tidak sesuai patokan yang dibuat secara tidak tertulis dan disepakati oleh banyak orang bahwa ‘kalau tidak ada niatan untuk serius janganlah main-main’, atau ‘jangan mudah menaruh harapan jika dia tidak ada niatan untuk serius’, atau patokan-patokan lain yang menyusahkan.

Jika kamu tidak setuju tentang patokan itu, silahkan saja. Aku tidak memaksa. Aku hanya mengungkapkan saja, toh ini adalah catatanku.

Ah, aku minta maaf aku menjadi egois. Kembali tentang John Keple. Suatu ketika John Keple pernah berkata kepadaku, “Sebenarnya aku iri padamu, Suparlan. Kamu bisa fokus menyukai satu orang. Sedangkan aku menyukai banyak wanita dan menggodai mereka semua. Sungguh aku iri, Suparlan”. Ini aneh. Akulah yang seharusnya iri pada John Keple. Bukankah aku sudah bilang padamu sejak awal bahwa aku pengecut. Untuk mengetahui namamu saja menunggu dosen membacakan daftar hadir. Aku ingin seperti John Keple, berani berkenalan dengan banyak wanita bahkan menggodai mereka. Tujuanku bukan menjadi seperti John Keple. Aku hanya ingin lebih berani untuk mengenalmu lebih jauh.

Sudah berkali-kali John Keple menyuruhku untuk mengungkapkan saja perasaanku ini kepadamu. Dan sudah berkali-kali juga aku mengatakan padanya bahwa yang kupedulikan hanya mencintaimu. Memang seperti hal yang egois. Aku hanya sedang menikmati dimana aku melirik-lirik dan mencuri-curi pandang kepadamu. Tanpa kamu tahu bahwa aku jatuh cinta kepadamu.

Tapi, aku sudah mengatakan pada Desember lalu bahwa tahun ini akan aku ungkapkan perasaanku. Tapi sudah beberapa bulan berlalu belum kunjung juga kuungkapkan. Aku juga memberitahu John Keple bahwa aku ingin mengungkapkan kepadamu. John Keple justru terlihat antusias melebihi diriku. Namun belum juga kuungkapkan perasaanku, datang penghalang yang sangat besar. Negara ini terkena wabah, tak terkecuali kota tempatku dan tempatmu kuliah.

Awalnya satu atau bulan ke depan aku ingin mengajakmu bertemu untuk kuungkapkan perasaanku. Namun setelah wabah datang, rencana itu kuurungkan kembali. Dan kamu pun sudah pulang untuk menghindari wabah yang ada di kota ini. Aku ingin mengumpat.

Kembali soal John Keple. Aku tidak tahu apa yang dilakukan John Keple di tengah wabah ini. Apakah dia masih berangkat kerja. Yang kutahu sepertinya dia tidak pulang. Dan yang kutahu lagi sepertinya dia sudah tidak seperti dulu lagi. Dia tak menggoda banyak wanita seperti dulu lagi, sejak dia jatuh cinta dengan salah seorang teman seangkatanmu.

Entahlah. Sejak wabah ini datang, yang membuat rencanaku berantakan, aku jadi berpikir apakah memang belum saatnya aku mengungkapkan ini. Apakah Tuhan hanya mengizinkanku mencintaimu saja, dengan berpikir bahwa hanya cukup mencintaimu saja adalah jalan terbaik. Seperti halnya John Keple yang berhenti mendekati wanita-wanita setelah jatuh cinta dengan salah seorang teman seangkatanmu. Mungkin hanya cukup mencintaimu tanpa memberitahumu bahwa aku mencintaimu terkesan egois. Aku minta maaf.

Maaf. Lagi-lagi aku meminta maaf. Catatan kali ini bukan tentangmu, tapi tentang John Keple.

Sekali lagi aku minta maaf, Karlina Sumarni.


Yogyakarta, 25 Maret 2020 
Catatan Sejenak #2

Suparlan

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 01 April 2020

#AprilProduktifDay1 - Suparlan: Catatan Sejenak #1


KARLINA SUMARNI




(sumber gambar: dokumen pribadi)


Aku mengenal kamu dari jauh. Bukan tentang jarak. Memang ketika awal kenal dengan kamu, kita belumlah dekat. Sampai sekarang pun kurasa kita masih belum dekat. Aku mengenal kamu sebelum kamu mengenalku. Aku mengenalmu dari sekilas pandang. Tunggu dulu, jika tidak aku ceritakan bagaimana aku mengenalmu sebelum kamu mengenalku, mungkin kamu akan bingung bagaimana bisa aku mengenalmu sebelum kamu mengenalku. Aku akui akan sangat membuatku malu kalau kuceritakan ini, karena pasti kamu akan mengira aku pengecut dan tidak berani.

Saat itu aku dan John Keple, temanku, mengulang satu mata kuliah di kelasmu. Ya, aku memang mahasiswa dengan semester, yang jika dijumlah, dua kali semestermu. Aku dan John Keple datang sedikit terlambat. Hampir saja tidak kebagian kursi untuk duduk. John Keple duduk di belakangku. Aku tak mempedulikan siapa yang duduk di sebelahku, awalnya. Aku memperhatikan dosen saja. Belum sampai lima menit, John Keple membisik dari belakang, “Suparlan, sebelahmu!!” bisik John Keple kepadaku. Aku bingung dengan maksud John Keple, aku menoleh kebelakang, ke arah John Keple. “Sebelahmu!!” ulang John Keple sambil memberi isyarat supaya aku menolah ke arah kananku. Mau tidak mau aku menoleh ke arah kananku, penasaran juga. Aku terperangah. Terdiam. Aku melihat wajahmu, dari samping, tepat di depanku. Dalam sepersekian detik aku merasa waktu mengalami ‘slow motion’. Muncul orang-orang satu desa bernyanyi dan menari di belakangku, seperti di film-film India yang pernah kutonton, bayangku. Aku tidak lagi fokus memperhatikan dosen, saat itu. Aku hanya menanti saat-saat dosen mengabsen mahasiswa satu persatu. Bukan karena aku ingin segera kuliah ini selesai, tapi aku ingin tahu namamu. Ya, dosen ini lebih memilih mengabsen sendiri mahasiswanya satu persatu daripada membiarkan mahasiswanya mengabsen sendiri-sendiri. Sejak itulah aku tahu namamu, Karlina Sumarni.

Sebab itulah aku mengenalmu sebelum kamu mengenalku, walaupun aku hanya sekadar tahu namamu saja saat itu. Karena aku yakin saat itu kamu tidak peduli denganku yang ada di sebelah kirimu. Bahkan ketika dosen memanggil namaku untuk diabsen, aku yakin bahwa kamu tidak mendengarkan. Jangan bertanya mengapa John Keple bisa tahu tentangmu dan menyuruhku untuk melihatmu. Kamu sudah tahu jawabannya.

Baik, aku mengaku. Catatan ini tentang cinta. Aku ingin mengutuk diriku sendiri. Dulu aku menganggap cerita cinta seperti ini adalah cerita cinta sinetron, cerita cinta yang hiperbola, dan aku merasa jijik. Namun aku sendiri mengalami cerita cinta yang seperti itu. Aku merasa ditampar oleh Tuhan. Memang biar bagaimana pun, semenjijikkan apapun sebuah cerita cinta, itu tetaplah cinta.

Ini sudah menjelang akhir Desember. Sudah satu tahun lebih aku mengenalmu. Sudah satu tahun lebih aku jatuh cinta kepadamu. Selama satu tahun lebih itu pula aku merasa seperti jatuh cinta kembali di setiap kali melihatmu. Aku tidak tahu mengapa tidak aku ungkapkan saja kepadamu. Mungkin aku hanya ingin mencintaimu. Tak peduli banyak yang mencintaimu. Tak peduli kamu udah mencintai seseorang.

Ini sudah menjelang akhir Desember, baiklah aku ungkapkan kepadamu tahun depan. Biarlah kuakhiri tahun ini dengan masih mencintaimu tanpa kamu tahu. Aku tahu kamu pasti bertanya kenapa setelah satu tahun lebih baru kukatakan. Hal itu biar aku saja yang tahu. Kamu cukup tahu kalau aku mencintaimu.

Seperti yang kukira, pasti kamu menganggapku pengecut dan tidak berani. Untuk tahu namamu saja menunggu dosen membacakan daftar hadir mahasiswa. Maka karena itu, aku minta maaf jika aku membuatmu beranggapan bahwa aku pengecut dan tidak berani, meskipun bisa saja benar. Sekali lagi aku minta maaf, Karlina.


Yogyakarta, 26 Desember 2019
Catatan Sejenak #1

Suparlan

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 12 Maret 2019

Komik Ijazah (Sebuah Komik Bosok)

Selamat membaca.






















Silahkan berkomentar.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Siapapun Bisa Menjadi Apapun



(catatan saya ketika menonton wawancara Husni Assaerozi di TV9 Nusantara)
Oleh: Iqbal Fahreza

Siapa yang mengira bahwa seorang santri pun bisa menjadi komikus. Itu yang saya rasakan ketika saya mengenal mas Husni Assaerozi. Dia adalah seorang santri di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya. Saya tak menyangka bahwa dia adalah kakak kelas saya semasa di Madrasah Aliyah ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Rumahnya pun berada di desa Guyangan, sangat dekat dengan sekolah dan pesantren tempat saya nyantri dulu.
Sekarang dia menjadi seorang komikus yang bisa dibilang terkenal. Apalagi ketika komik Si Toyeb: Suka Cita Anak Pesantren beredar di toko-toko buku (tidak terkecuali toko buku online), semua orang mulai dari santri sampai ustadz berbondong-bondong untuk membeli komik tersebut. Karena memang (sepertinya) baru kali ini komik yang mengangkat kehidupan di pesantren berada di rak-rak Gramedia dan Togamas. Tentunya hal ini adalah fenomena yang anti mainstream.


Beberapa bulan lalu, tepatnya beberapa hari sebelum tanggal 16 Desember 2018, saya terkejut ketika mas Husni Assaerozi memberitahu saya bahwa pada tanggal 16 Desember 2018 pukul 12:30 WIB di acara Jurnal Muda di channel TV9 Nusantara ada bincang-bincang dengan narasumber dia sendiri, Husni Assaerozi. Berikut cuplikan bincang-bincangnya:
P = Presenter
H = Husni Assaerozi


P : Assalamu’alaikum, kak Husni. Selamat datang.
H : Wa’alaikumsalam.
P : Gimana kabarnya, kak Husni?
H : Alhamdulillah baik.
P : Kak Husni asli dari mana, sih?
H : Asli dari Pati, Jawa tengah.
P : Luar biasa, dari Jawa tengah ke sini (saya tidak tahu yang di maksud “ke sini” itu ke Surabaya atau ke Studio TV9 Nusantara).
H : Dari Jawa tengah, lulus Madrasah Aliyah langsung nyantri di Surabaya.
P : Nyantri di mana?
H : Di Kedinding, Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH Asrori Al-Ishaqi (Ponpes Al-Fithrah Surabaya).
P : Berarti sudah berapa tahun di sini (di Surabaya)?
H : Di sini... 6-7 tahunan.. ya.. 7 tahun.
P : Kita Kembali ke komik nih, masalah Si Toyeb, karena yang terkenal Si Toyeb ini, kenapa namanya Toyeb?
H : Toyeb sendiri ini artinya kan “baik”. Terus waktu dulu, sebelumnya, waktu sekolah di Pati sudah membuat komik di majalah sekolah, itu saya kasih judul Si Jalal. Waktu membuat lagi di Surabaya, di buletin Al-Fithrah, Al-Fithrah kan ada majalahnya tapi gak ada komiknya, nah.. ini kesempatan untuk mengirim karya komik ke (majalah) pondok. Ternyata, Alhamdulillah langsung keterima. Tapi saya bingung, pakai karakter yang dulu lagi atau... akhirnya cari karakter lagi. Tiba-tiba teman saya nyeletuk “Toyeb lak wes” pakai bahasa Jawa. Saya pakai Toyeb.
P : Berarti sekarang santri-santri manggilnya (manggil mas Husni) si Toyeb, nih?
H : Oh..nggak hehehe. Tapi kebanyakan setelah saya membuat ini (komik Si Toyeb), kan sudah sejak majalah Al-Fithrah edisi 29 sampai edisi 87 atau 88 di pondok, berarti sudah 5 tahunan. Akhirnya karena sering bikin karakter Toyeb, beberpa orang manggil saya Toyeb.
P : Kalau kita bahas masalah komik nih, sejak kapan sih mulai ngerjain komik? Apa dari kecil memang hobi baca (komik) terus pingin jadi komikus? Atau bagaimana?
H : Kalau dari kecil memang suka nggambar. Tapi kalau komik gak tau caranya. Tapi ya bingung, masalahnya komik itu kan cerita yang bergambar, itu belum bisa (waktu masih kecil). Waktu kelas 2 Madrasah Aliyah, akhirnya ada peluang menjadi ilustrator dan membuat komik di majalah sekolah, akhirnya saya membuat komik. Jadi ya mulai kelas 2 Madrasah Aliyah tadi. Sampai sekarang.
P : Ini Si Toyeb mau lanjut Si Toyeb 2 atau gimana?
H : Iya SI Toyeb 2. Ini kan rencananya trilogi, Si Toyeb: Suka Cita Anak Pesantren, Si Toyeb: Suka Cita Remaja Pesantren, Si Toyeb: Suka Cita Alumni Pesantren. Jadi nanti trilogi. Buku yang pertama itu anak 13 tahun, awal-awal nyantri, baru masuk. Bagaimana dilemanya santri baru. Yang kedua, Si Toyeb: Suka Cita Remaja Pesantren ini tentang dilemanya seorang remaja yang waktu itu gejolaknya masa-masa muda, ramai-ramainya kumpul sama teman, pergaulan. Itu gejolaknya di buku 2. Nah yang ketiga, Si Toyeb: Suka Cita Alumni Pesantren. Tentang kisah dari beberapa santri yang lulus itu seperti apa. Ada yang seperti ini, ada yang seperti itu.


P : Yang luar biasa adalah salah satu anak yang membuat skripsi menggunakan (objek penelitian) SI Toyeb ini. Bisa diceritakan seperti apa kok bisa dijadikan skripsi?
H : Ini kan baru 6 bulanan Si Toyeb rilis. Selama ini sudah ada 3 Mahasiswa yang menjadikan (komik ini) skripsi. Salah satunya dari Ma’had Ali itu mau menjadikan jurnal tugas akhir di Ma’had Ali. Jadi total ada 4. Untuk yang sudah jadi ini (yang sudah dishare di instagram Si Toyeb) mahasiswa UNISA, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, dan mahasiswanya menjadi mahasiswa lulusan terbaik.
P : Ada gak sih pemikiran dari kak Husni sendiri tentang komik tapi berdakwah juga?
H : Kalau dikatakan dakwah ya mungkin yang menilai orang lain. Tapi kalau dari saya berkarya karena senang. Senang kalau misalnya berkarya kan kita harus mempertimbangkan bagaimana karya ini ketika orang membacanya bisa mendapatkan ilmu, positif, senang, hiburan, dapat banyak hal.
P : Kalau soal Si Toyeb, respon dari pembaca apa yang sering mereka sampaikan?
H : Respon dari pembaca kebanyakan mereka bernostalgia. Misalnya mereka yang sudah berumur di atas 30, mereka ada yang sampai terenyuh karena kangen masa-masa mondok. Teman-teman yang dulu berjuang bareng di pesantren, sekarang sudah jadi orang. Ya teringat jaman dulu tidur diobrak, tidur bareng, makan bareng.
P : Si Toyeb sendiri ceritanya berawal dari pengalaman pribadi atau gimana nih?
H : Banyak yang bilang kalau ini pasti pengalaman pribadi komikusnya (“oh iya ini adegan si Toyeb yang nakal pasti pengalaman pribadi ni hehehe” sahut presenternya). Hehehe nggak, padahal kan saya pendiam hehehehe. Gini, ini kan memang di desa, rumah saya deket banget sama pesantren (lingkungan pesantren). Dari TK sampai lulus Madrasah Aliyah sekolah di pesantren (dekat rumah) di Pati, di desa Guyangan, di Raudlatul Ulum. Belajar komik di pesantren di sana, terus pindah ke Surabaya juga (nyatri). Karya yang baik (kan) yang dihasilkan dari sekitar dulu, apa yang kita tahu, apa yang di sekeliling kita. Ini seperti karya yang riil, yang mendekati kejujuran. Jadi ini sebagian dari pengalaman pribadi, sebagian dari teman, sebagian dari tanya-tanya, sharing-sharing, dan lihat dari akun-akun (santri) di media sosial.
P : Nah kalau referensi, kak Husni dapat dari buku apa? Atau sosial media?
H : kebanyakan sosial media. Saya lihat akun-akun santri, meme santri.
P : Untuk Si Toyeb ini sudah berapa kali cetak?
H : Karena masih 6 bulan, jadi masih belum ada kabar cetak ulang. Masih proses.
P : Buku Si Toyeb ini dipasarkan di mana, sih?
H : Dipasarkan di seluruh Gramedia dan Togamas, di toko online juga ada. Pesan sama Si Toyeb (akun Si Toyeb) juga ada, dapat diskon hehehe.
P : Untuk kak Husni sendiri sebagai penulis, kreator, dan yang membuat Si Toyeb ini, yang paling menarik dari Si Toyeb ini apa?
H : Si Toyeb ini saya anggap sebagai diri sendiri, adik, anak, sebuah sosok yang mewakili santri di dunia maya. Santri itu seperti ini. Tapi juga tidak bisa satu karakter mewakili seluruh santri, jadi saya membuat karakter-karakter pembantu. Ada santri yang seperti ini, seperti ini, seperti ini.


P : Selain ini kan (di komik Si Toyeb) ada barcode yang berisi info tambahan, itu terpikir dari mana?
H : Kan banyak hal-hal yang di pesantren itu sebenarnya bermanfaat sekali. Jadi bukan hanya segi pahala tapi juga segi ilmiah. Contoh makan pakai 3 jari (jempol, telunjuk, dan tengah), ini kan bukan hanya sunah rasul tapi juga ada penelitian yang mengatakan bahwa jari-jari kita, jempol-telunjuk-tengah, ini ada enzim-enzim. Kalau makan pakai 3 jari ini bisa mengikat bakteri yang ada di dalam makanan. Seperti itu. Kayak tidur miring ke kanan itu ternyata manfaatnya untuk tubuh.
P : Kalau dari komik Si Toyeb nih kak Husni, ini ada crew atau memang totlitas kak Husni mengerjakan semua sendiri?
H : Ini pastinya ada banyak tangan, ada crew. Kalau untuk cerita dan gambar ya saya, tapi untuk pewarnaan dan lainnyaitu dari pihak penerbit semua yang menyediakan.
P : Selama pengerjaan Si Toyeb ini ada kesulitan gak?
H : Kesulitannya sih gak ada. Karena memang saya kan sudah membuat komik beberapa. Menurut saya membuat komik yang membuat saya ringan, enak, jujur ya sSi Toyeb ini. Karena kebiasaan saya diilustrasikan.
P : Mengapa sih ingin menyampaikan dakwah memalui komik?
H : Banyak Hal. Kalau saya kan menjadi pedoman saya berkarya dari sabda Imam Ghazali mengenai “jika bukan anak raja, bukan anak ulama besar, maka menulislah”. Sama Sahabat Ali Bin Abi Thalib, “semua penulis akan meninggal, hanya tulisannya yang akan abadi sepanjang masa, maka tulislah sesuatu yang bermanfaat dan membahagiakanmu di akhirat kelak”. Pinginnya karya-karya ini bisa membahagiakan di suatu hari nanti.
P : Selain Si Toyeb, kak Husni bikin komik lain kan, (salah satunya) “Inspirasi Kearifan Hati: 22 Tokoh Islam Kekasih Allah, kalau yang ini ceritanya dari mana?
H : Ini ceritanya saya ambil dari kitab Risalatul Qusyairiyah. Kitab ini kan di bab-bab terakhirnya kan tentang kisah para ulama-ulama. Saya tertarik sekali ketika ngaji dulu saya kepingin banget menceritakan kisah-kisah ini ke teman-teman atau ke orang-orang “ini loh ceritanya menyentuh banget”.
P : Untuk komik yang satunya (lagi) ini, “Sejuknya Hati Hamba Ilahi” ini tentang apa?
H : Kalau yang ini tentang mengenal kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athoillah. Kitab Al-Hikam kan cenderung terkesan kitab tasawuf yang lumayan berat jika langsung dikaji. Nah, mungkin ini (komik Sejuknya Hati Hamba Ilahi) (bisa) menjadi pengantar untuk mempelajari (kitab Al-Hikam) biar lebih agak ringan.
P : Untuk selanjutnya, lagi mengerjakan komik apa ini? Atau ada rencana membuat komik apalagi?
H : Rencananya sekarang mau mengerjakan komik tentang birrul walidain, sama Si Toyeb buku ke-2.
P : Si Toyeb buku ke-2 mau membawa tema apa?
H : Ya tadi, si Toyeb remaja, umur 16 tahun. Gejolak anak remaja yang berada di pesantren. Biasanya kan pingin seperti anak-anak di luar, motor-motoran, jiwa-jiwa membara, gak boleh bawa HP.




P : Terakhir nih kak Husni, ajak santri dan juga generasi muda semua di Indonesia untuk bisa kreatif?
H : Ya. Ini khususnya bagi teman-teman santri. Menulis kan tradisi intelektual muslim. Ulama-ulama terdahulu keseluruhan punya karya, dan ini tugas kita generasi-generasi muda khususnya para santri agar selain belajar dan mengamalkan apa yang kita tahu ya menulis ini, sebagai tardisi intelektual kita bagi seorang pelajar.
P : Baik. Terima kasih kak Husni atas waktunya.
H : Sama-sama.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Ini merupakan sebuah pemicu bagi semua orang-orang, khususnya bagi santri-santri ataupun yang sudah alumni santri untuk berkarya. Karena berkarya itu menyenangkan.
Saya jadi teringat dengan kalimat dari pak Win, salah satu ilustrator dan komikus dari cerita-cerita legendaris Kho Ping Hoo atau Asmaraman S., yang selalu dia katakan di grup whatsapp (yang saya masuk di dalamnya) yang isinya master-master komik dan ilustrator (kecuali saya), “teruslah gelisah yang menggembirakan’. Memang kalimat itu terasa ambigu tapi saya menyetujui. Karena dengan gelisah, sebuah karya bisa diciptakan, sehingga berakhir gembira karena kegelisahan bisa tertuang.
Saya teringat juga dengan kalimat-kalimat dari pak Iman Budhi Santosa, “cateten, cateten, catenen, mboh mengko dadine opo seng penting cateten” (“Tulislah, tulislah, tulislah, masalah nanti tulisanmu jadi apa, entah cerpen atau esai atau yang lain, yang penting tulislah”), dan juga kalimat beliau “aku nulis iki ben awakmu kabeh neruske tulisanku iki” (aku menulis ini supaya kamu semua meneruskan tulisanku ini).
Jadi, marilah berkarya. Karena karya kita akan menjadi pemicu generasi selanjutnya untuk berkarya.
Berkarya dan bersenang-senanglah!


Perpustakaan Kota Yogyakarta, 19 Desember 2018

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Recent Posts

Categories

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Gerakan Komik Bosok | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com